Tim kami

Para perempuan di balik setiap sesi.

Alemoria adalah delapan perempuan, dan hanya perempuan. Semuanya terikat perjanjian kerahasiaan tertulis, dan tidak satu pun pulang dari sesimu dengan membawa foto.

Delapan perempuan tim Alemoria Studio, duduk dan berdiri bersama di studio putih
Seluruh tim, difoto khusus untuk halaman ini. Tidak ada satu pun klien yang tampil di situs ini.
Alda Tazkia Fadhilah, Founder di Alemoria Studio Potret Alda Tazkia Fadhilah
Founder

Alda Tazkia Fadhilah

@aldatazkia

Sebelum Alemoria, ada dunia teknik, bidang yang mengajarkan Alda sejak awal apa artinya seorang perempuan mempertahankan tempatnya di ruang yang tak dirancang untuknya. Di sanalah ia sampai pada satu kesimpulan sederhana: pemberdayaan punya banyak wajah, dan salah satu yang paling sering terlewat adalah merangkul sisi feminin diri sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, ia mempelajari bentuk tubuh, warna, dan wardrobe yang memunculkan kecantikan alami seseorang, ilmu yang mula-mula ia cari untuk dirinya sendiri. Sampai usia 20 tahun, Alda selalu menjaga jarak dari kamera. Hingga satu sesi foto mengubah segalanya: canggung di awal, mengejutkan begitu ia melihat hasilnya yang mengesankan. Pergeseran cara memandang diri itulah yang kini ia ciptakan untuk setiap klien yang datang ke Alemoria.

Sebagai pendiri, Alda memimpin sendiri setiap konsultasi privat, mulai dari konsep, styling, hingga pose, dan selalu berada dekat sepanjang sesi, memastikan protokol privasi Alemoria dijalankan sepenuhnya: tim seluruhnya perempuan dengan perjanjian kerahasiaan tertulis, tanpa cloud, tanpa jejak online, kartu memori dihapus begitu sesi selesai, dan foto yang tidak pernah sekalipun dijadikan materi marketing.

Keyakinannya sederhana: tubuh perempuan layak dirayakan, bukan sekadar difoto, dan diabadikan cukup baik untuk terus disimpan.

Audi Kinanti Pasha, Perwakilan Founder di Alemoria Studio Potret Audi Kinanti Pasha
Perwakilan Founder

Audi Kinanti Pasha

@presidenaudi

Audi adalah perwakilan founder di Alemoria. Logistik sesi, timeline, hingga kelengkapan setiap dokumen legal klien ada di tangannya, pekerjaan yang jarang terlihat namun menentukan apakah sebuah sesi berjalan lancar atau tidak.

Lebih dari 5 tahun, ia berkecimpung di industri kreatif, mulai dari produksi TVC, media sosial, hingga photoshoot. Rentang pengalaman itu membentuknya menjadi orang yang terbiasa mengatur banyak hal sekaligus tanpa kehilangan detail.

Ia sampai ke dunia intimate photoshoot setelah melihat sebuah kesenjangan: di Indonesia, belum banyak vendor yang menawarkan layanan semacam ini dengan kenyamanan dan keamanan yang layak bagi klien. Didorong rasa suka untuk terus eksplorasi dan belajar hal baru, ia ingin ikut mengisi kekosongan itu.

Sebuah sesi, menurutnya, harus terasa seperti ruang aman bagi klien untuk mengekspresikan diri. Privasi mereka dijaga lewat dokumen legal dan integritas tim. Dan kalau dibutuhkan, ia siap jadi pendukung nomor satu di ruangan itu, menyemangati klien lewat setiap pose.

Francine Stephanie, Fotografer di Alemoria Studio Potret Francine Stephanie
Fotografer

Francine Stephanie

@francinesteph

Di balik kamera, Francine mencari satu hal di atas segalanya: momen yang terasa natural, bukan dibuat-buat. Ia membimbing pose, menyesuaikan cahaya, dan menjaga suasana tetap santai, sehingga sesi terasa lebih seperti sore hari bersama teman ketimbang pemotretan formal.

Latar belakangnya ada di fotografi dan videografi wedding dan prewedding, lebih dari satu tahun belajar menangkap momen yang benar-benar berarti bagi orang di depan lensanya.

Setiap klien membawa cerita yang berbeda, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa disimpan tidak pernah terasa membosankan. Intimate portrait menambah satu lapisan lagi: bisa menjadi hadiah untuk orang lain, atau sesuatu yang diambil seorang perempuan semata untuk dirinya sendiri, dan ada keajaiban tersendiri dalam membantu seseorang melihat dirinya dengan cara yang berbeda.

Menjelang sesi, ia membahas shot list agar tidak ada yang terasa mengambang. Selama sesi berlangsung, ia membimbing tanpa memaksa, dan kenyamanan selalu didahulukan daripada pose yang sekadar terlihat estetik. Begitu foto dicetak atau diserahkan, semua file dihapus di lokasi. Tidak ada yang tertinggal.

Inthan Dyah Hayuningrum, Fotografer di Alemoria Studio Potret Inthan Dyah Hayuningrum
Fotografer

Inthan Dyah Hayuningrum

@inthaningrum

Sejak 2016, kamera sudah menjadi bahasa yang paling jujur bagi Inthan. Perjalanannya dimulai dari organisasi fotografi kampus, tempat ia akhirnya dipercaya memimpin, lalu berlanjut ke ruang pameran di Paris dan Berlin, serta pengalaman bekerja sebagai fotografer di Mesir. Isu-isu feminisme banyak membentuk cara pandangnya, khususnya soal perempuan, identitas, dan ekspresi diri.

Fotografi tidak pernah sekadar pekerjaan. Ia adalah media katarsis, cara yang sunyi namun jujur untuk mengeluarkan emosi yang tidak selalu bisa diucapkan dengan kata. Dalam bekerja, itu tampak dari caranya memahami konsep secara utuh, menghargai proses, dan menjaga komunikasi yang sehat dengan setiap klien.

Di Alemoria, ia menerjemahkan cerita, karakter, dan keunikan setiap klien ke dalam sebuah karya visual. Ketertarikannya pada intimate portrait lahir dari keyakinan bahwa setiap perempuan punya cara unik mengekspresikan dirinya, termasuk lewat tubuh dan sisi feminin yang jarang mereka tunjukkan ke orang lain. Tujuannya bukan sekadar foto yang terlihat sensual, melainkan tempat di mana seseorang bisa merasa percaya diri dan melihat keindahan dirinya dari sudut pandang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Rasa aman dan nyaman selalu jadi prioritas utama. Komunikasi terbuka menjadi langkah pertamanya: memahami batasan dan ekspektasi klien, lalu memastikan setiap proses berjalan berdasarkan persetujuan mereka.

Pinti Pisen, Makeup Artist di Alemoria Studio Potret Pinti Pisen
Makeup Artist

Pinti Pisen

@vintmakeupartist

Riasan yang baik tidak pernah mengubah siapa seseorang. Ia hanya membuat lebih banyak dari dirinya terlihat. Keyakinan itulah yang menuntun beberapa tahun perjalanan Vint sebagai makeup artist, sebagian besar berakar di sesi bridal dan photoshoot, tempat detail terkecil harus tetap bertahan berjam-jam di depan lensa.

Dari skin prep pertama hingga touch-up terakhir di tengah sesi, ia bekerja selaras dengan fotografer dan hairstylist agar hasil akhirnya terasa menyatu, bukan sekadar tertempel.

Kedekatan dalam pekerjaan itu sendiri yang membuatnya tertarik pada intimate photoshoot. Di sini, makeup bukan cuma soal kecantikan. Ia adalah cara membantu seseorang merasa menjadi dirinya sendiri di momen yang sepenuhnya miliknya.

Setiap sesi dimulai perlahan: obrolan ringan, telinga yang terbuka untuk preferensi klien, alat yang selalu bersih, jeda yang ditawarkan tanpa diminta. Feedback selalu diterima, katanya, karena wajah yang sempurna tidak pernah jadi tujuan. Tujuannya adalah klien yang pulang dengan perasaan dilihat dan dihargai.

Monica Abigail Tjio, Makeup Artist di Alemoria Studio Potret Monica Abigail Tjio
Makeup Artist

Monica Abigail Tjio

@brushedbymonicc

Berhasil atau tidaknya sebuah sesi, bagi Monic, sudah ditentukan sebelum kuas pertama menyentuh kulit. Karena itu ia membangun kenyamanan lebih dulu, lewat obrolan soal apa yang disukai klien, apa yang tidak, dan seperti apa mereka ingin terlihat di hasil akhir.

Karakter, bukan tren, yang membentuk riasannya: setiap look dibangun dari fitur wajah klien dan konsep sesi, bukan formula yang diulang dari satu klien ke klien lain.

Hampir tiga tahun di bidang ini, mencakup bridal, event, photoshoot, hingga pageant, mengasah tiga gaya berbeda yang ia kuasai: clean beauty, soft glam, bold glam. Momen favoritnya adalah menyaksikan sebuah look terasa lengkap justru ketika sudah diterjemahkan ke dalam sebuah foto.

Sesi intim menuntut hal yang berbeda darinya: bukan cuma soal cantik, tapi ruang di mana klien bisa merasa sepenuhnya menjadi dirinya sendiri di depan kamera. Ia menjaga ritme tetap santai, menghormati setiap batasan, dan memastikan klien selalu punya ruang untuk bicara kalau ada yang terasa kurang nyaman.

Elvira Luthfiana, Hair Stylist di Alemoria Studio Potret Elvira Luthfiana
Hair Stylist

Elvira Luthfiana

@elf.hairdo_

Rambut tidak pernah menjadi detail terakhir. Justru sering kali ia yang menentukan apakah keseluruhan look terasa menyatu atau tidak. Dua tahun menekuni hairdo secara serius, setelah mengikuti berbagai course dan setahun bergabung dengan tim styling di Trans7, Elvira tetap memperlakukan setiap hairstyle sebagai negosiasi kecil antara konsep dan kenyamanan.

Dalam praktiknya, itu berarti menyesuaikan rambut klien dengan mood pemotretan sekaligus outfit yang dikenakan, dan tetap berada dekat sepanjang sesi untuk menyesuaikan atau merapikan kapan pun dibutuhkan.

Daya tarik intimate photoshoot bisa ia jelaskan dengan gamblang: prosesnya lebih personal, lebih private, dan ada sesuatu yang benar-benar menyentuhnya ketika sebuah sesi berubah menjadi tempat seseorang berani menunjukkan sisi dirinya yang jarang terlihat.

Obrolan selalu datang lebih dulu: apa yang disukai klien dan apa yang membuat mereka nyaman. Dari situ, ia memberi tahu sebelum bertindak, terbuka pada permintaan, dan menjaga batasan tanpa perlu diminta dua kali. Yang ia inginkan pada akhirnya sederhana: klien yang merasa aman, tidak terburu-buru, dan sepenuhnya menjadi dirinya sendiri.

Siti Nuriah, Hair Stylist di Alemoria Studio Potret Siti Nuriah
Hair Stylist

Siti Nuriah

@nury_makeupartist

Satu gaya rambut yang tepat bisa mengubah cara seseorang membawa dirinya sepanjang hari. Transformasi itulah yang dikejar Nuri selama lebih dari lima tahun, lewat pernikahan, fashion show, dan berbagai sesi foto.

Pekerjaannya dimulai dari membaca karakter seseorang, lalu menerjemahkannya ke dalam look yang benar-benar cocok untuknya. Sepanjang sesi, look itu ia jaga tetap rapi, dengan touch-up yang tenang bila diperlukan agar tidak mengganggu momen yang sedang berlangsung.

Kepekaan dan perhatian pada detail yang lebih besar: dua hal itu yang dituntut intimate photoshoot, dan justru itu yang membuatnya tertarik. Bahkan sehelai rambut bisa mengubah mood sebuah foto dan membuatnya terasa autentik, bukan sekadar dibuat-buat.

Tidak ada yang ia ubah tanpa bertanya lebih dulu. Sesi dibuka dengan obrolan ringan sambil mendengarkan batasan klien, karena hasil yang bagus tidak berarti banyak kalau kliennya tidak merasa menjadi dirinya sendiri sepanjang proses.

Mulai

Mulai dengan obrolan privat.

Setiap konsultasi dipimpin langsung oleh Alda. Tanyakan apa saja soal tim, hari sesi, atau protokolnya.

Mulai secara privat di WhatsApp Atau lihat studionya →